Tuesday, 2 April 2013

ILLUMINATI: The Cult that Hijacked the World

Hai, entri saya kali ini setidaknya akan membuat beberapa orang skeptis di luar sana mengenai sumber informasi yang ia (atau mereka) pikir hanya dapat ditemukan di halaman berbasis blogspot atau wordpress saja itu menjadi... sediikittt... terbuka wawasannya. Ya, karena kali ini, sebelum melanjutkan pembahasan mengenai segitiga ataupun hexagram yg merupakan overlapping antara 2 segitiga, saya akan memberi sedikit resensi satu dari begitu banyak buku referensi yang pada Amazon List, berada di urutan pertama dalam "Best Books Exposing The Illuminati-Elite Agenda and NWO.", yakni:

Illuminati: The Cult that Hijacked the World oleh Henry Makow, Ph. D.

Cover buku Asli (Sumber: Amazon)
Informasi bibliografi

Henry Makow adalah seorang penulis Kanada berdarah Yahudi. Ia mulai menulis kolom majalah pada umur 11 tahun. Dan menerima gelar Ph. D dari Universitas Toronto pada 1982, dan sering menyuarakan penentangannya terhadap New World Order dalam berbagai kesempatan wawancaranya dan pada situsnya. Yang menarik adalah, (lagi2) beberapa orang-orang skeptis menganggap pembahasan mengenai Illuminati merupakan tindakan anti-semitisme (anti Yahudi dan Israel). Padahal, dalam buku ini dijelaskan betapa Makow sebagai Yahudi (dan Yahudi taat lainnya) tentu menolak Zionisme dan perbuatan tak-berhati mereka kepada Palestina dan negara Timur Tengah lainnya.

Tapi, versi asli buku ini berbahasa Inggris. Coba bayangkan bagaimana nasib kita jika tidak ada translator-translator hebat yang dipekerjakan penerbit seperti misalnya Ufuk Publishing House (Insha Allah ia akan jadi stakeholder TA saya :P), yang bukan hanya menggubah bahasa agar dapat dimengerti Truth-seeker2 seperti kita, tapi juga "mengkonversi" buku yang seharusnya seharga tidak kurang dari 180ribuan ini menjadi 50ribuan saja ke Indonesia. hehe. Jujur saja, ini adalah buku pertama yang saya beli setelah memutuskan untuk mencari tahu 5W1H dari Illuminati, atau dengan kata lain memutuskan untuk menjadi Truth-seeker dan menyebarkannya lewat Tugas Akhir saya. Nah, dalam versi bahasa Indonesia, covernya cukup berbeda. Sangat malah.

Illuminati: Dunia dalam Genggaman Perkumpulan Setan.


 Cover buku versi Bahasa Indonesia dengan Ambigram Earth, Air, Fire, Water.
Saya kira akan lumayan menarik jika saya melampirkan dulu deskripsi singkat di cover bagian belakang. Yaitu:

Kemanusiaan telah dijajah oleh sebuah kelompok pemuja Setan yang bernama Illuminati. Untuk mengalihkan perhatian dan mengendalikan kita, mereka tela menggunakan jaringan Freemason yang menyusup ke berbagai organisasi, khususnya pemerintah, lembaga intelijen, pendidikan, dan media massa. Mereka telah mengatur dua perang dunia dan akan merencanakan yang ketiga. Lalu apa sebenarnya tujuan Illuminati itu? Siapa saja yang terlibat di dalamnya? Henry Makow menggambarkan konspirasi dan menunjukkan bagaimana sejarah manusia sedang berlangsung sesuai dengan rencana Illuminati.

Ya, begitulah kira-kira deskripsi umum yang dapat memberikan gambaran sederhana mengenai buku ini. Berikutnya adalah, konten. Secara umum, konten buku ini terbagi menjadi:
  • Bagian satu: Bankir, Yahudi dan Anti-semitisme
  • Bagian dua: Illuminati, Sabbatean dan Perjanjian
  • Bagian tiga: Zionisme dan Holocaust
  • Bagian Empat: Sejarah yang Disembunyikan
  • EPILOG: Bertahan Hidup dari Tatanan Dunia Baru
Buat saya, membaca tulisan terjemahan bahasa Asing selalu mengasyikkan. Mereka selalu punya struktur kalimat yang menarik. Yang ketika di Bahasa Indonesiakan, seperti memperkaya Bahasa Indonesia itu sendiri. Hal yang sama saya rasakan terhadap tulisan-tulisan orang Yahudi yang dianggap manusia-manusia dengan intelejensi tinggi. Saya tidak terlalu percaya itu, namun saya percaya beberapa dari mereka memang (atau setidaknya berusaha untuk terlihat) terpelajar.

Makow tidak terlalu banyak membicarakan soal teori-konspirasi yang berhubungan dengan simbol-simbol seperti yang mungkin kita lihat di internet. Ia lebih banyak berbicara mengenai sejarah, latar belakang, pemikiran dan pernyataan orang-orang tertentu, dan strategi juga agenda yang berhubungan dengan Illuminati dan koalisinya. Seringkali ia menjelaskan analisisnya dihubungkan dengan pernyataan dari orang-orang yang berkaitan. Seperti misalnya, ketika ia berbicara mengenai globalisasi sebagai strategi pemerintahan satu dunia lewat pendidikan, kesehatan, media, hiburan bahkan gereja, ia banyak mengutip beberapa orang yang menyatakan hal serupa.

Jujur saja, menurut kacamata (RayBan oplosan) saya, buku ini tidak terlalu terstruktur jika tujuannya untuk memberikan gambaran jelas mengenai Illuminati jika dibandingkan dengan film-film dokumenter seperti The Arrivals. Ditambah lagi, berdasarkan beberapa sumber di Forum-forum khusus bagi Truth-seeker seperti HXForum.org (yang di dalamnya tidak akan ditemukan orang2 dengan komentar "blablabla laknatullah" ataupun "blablabla menyebar-kebencian"), ada pernyataan bahwa Henry Makow merupakan satu dari banyak penyebar Disinfo atau Disinformasi. Yang jika ada yg belum tahu, singkatnya merupakan sebuah strategi untuk menjadikan suatu orang/ pihak seakan berlawanan dengan Illuminati dengan memberikan beberapa informasi yang memang benar sehingga menjadi referens bahkan panutan, namun bersamaan dengan itu juga menyebarkan informasi yang provokatif ataupun cukup menyesatkan.

Misalnya saja, David Icke yang merupakan ahli teori-cult yang banyak menjadi referensi, ia banyak menjelaskan mengenai makna dan hubungan mengenai Pentagram dan Hexagram dengan satanisme, tapi disisi lain, ia menyatakan bahwa Illuminati adalah keturunan Reptil, yang secara tidak langsung mendukung teori Evolusi Darwin. Bahkan pernyataan ini dapat diartikan untuk membenci seseorang karena rasnya. Dalam hal ini, menurut saya Henry Makow memang memiliki banyak informasi menarik, tapi disaat yang sama, seakan berusaha membersihkan "nama-kotor" Yahudi dari secret society Illuminati ini. Saya bukanlah tipe pembenci yang membabi-buta karena saya tahu Yahudi memang tidak dapat digeneralisir. Namun yang dikemukakan Makow dalam buku ini tentang betapa inosennya Yahudi untuk kemudian menjadi alat Illuminati, saya rasa terlalu berlebihan.

Tuesday, 19 March 2013

Simbol dan Logo | Horus, The Great Seal, & Garuda Pancasila

Seperti biasa, ini adalah postingan lanjutan dari blog sebelumnya. Namun sebelumnya, lagi2 saya harus menyamakan persepsi bahwa blog ini dibuat untuk keperluan akademis dalam bidang Komunikasi Visual. Sehingga, anggap saja bahwa saya sedang melakukan studi logo :)

Nah. Jika sebelumnya saya membicarakan mengenai Horus sebagai dewa matahari pagan yang tanda2nya banyak di asosiasikan pada perusahaan2 besar. Kini pertanyaan berlanjut, mengapa sebegitu berpengaruhnya Horus, hingga identitasnya baik fisik maupun metafora, bisa-bisanya digunakan ke tingkat yang lebih besar lagi. Ya, simbol negara. Yuk lihat.

Lambang negara dunia dengan asosiasi burung

Setelah memperhatikan lambang negara di atas. Sekarang kita berpikir... kenapa harus burung.dan... dengan visualisasi yang kurang lebih sama?. Untuk sementara kita kesampingkan dulu jenis burungnya, apakah itu garuda, elang, merpati, setengah manusia, atau apapun.

Sebagai peradaban tertua 3150 SM, bisa kita pastikan bahwa Mesir Kuno bukanlah pihak yang harus dituntut karena melakukan plagiat atas simbol tersebut. :P Karena jawabannya kembali ke topik mengenai Horus. Bahwa ia tercatat dalam Hiroglif Mesir sebagai "hr.w", yang pengucapannya di rekonstruksi menjadi *Ḥāru, yang berarti falcon atau elang. Dapat juga diartikan sebagai "the distant one" atau "one who is above, over" (Meltzer, Edmund S. (2002). Horus. In D. B. Redford (Ed.), The ancient gods speak: A guide to Egyptian religion (pp. 164). New York: Oxford University Press, USA.)

Singkatnya, Horus juga direpresentasikan sebagai burung elang. Itu juga merupakan alasan kenapa simbolnya dengan perwujudan manusia, digambarkan berkepala burung. Mari kita lihat simbol tersebut.



Sekarang kita bisa percaya, betapa berpengaruhnya Horus dalam dunia yang kita pikir modern ini. Namun yang jadi masalah adalah, apakah pengaruhnya baik.... atau mungkin buruk? Tentu saja kita tidak boleh asal menyimpulkan. Dalam hal ini, bagi kita TruthSeeker, pastinya bisa memulai dari apa pengaruh atau apa yang mempengaruhi simbol tersebut. Sebut saja pada brand. Logo yang bagus tidak menjamin produk tersebut berkualitas baik. Begitupula sebaliknya. Hanya karena logonya jelek, bukan berarti produk tersebut tidak bagus. Jadi, bagaimana kita mengetahui pengaruhnya? mari kita mulai dari diri sendiri. Yaitu Indonesia.

Garuda Pancasila adalah adaptasi dari Garuda yang dalam mitologi Hindu India berbentuk manusia berwarna emas, berwajah putih, berparuh dan bersayap merah. Diperkirakan sosok ini adalah adaptasi Hindu terhadap Dewa Ra/Bennu dalam mitologi Mesir kuno (Dewa Horus). Garuda juga banyak kesamaan dengan mitologi Pha Krut (Thailand), Rukh (Arab), Simurgh (Persia), Thunderbird (Indian), Vurumahery (Madagaskar) dan Phoenix (Yunani Kuno).

Perancangan Pancasila yang melewati proses Revisi 

Namun, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II pada tanggal 8 Februari 1950 ini, pernah mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis. Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh. Hatta sebagai perdana menteri. Setelah itu simbol ini juga terus dilakukan penyempurnaan berkali-kali hingga pada 20 Maret 1950, Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut. Sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II yang sebulan kemudian diberhentikan akibat persekongkolannya dengan Westerling dan APRA.

Sejauh ini, saya rasa Garuda Pancasila mungkin memang dipengaruhi oleh ideologi pagan. Namun atas idealisme pemimpin-pemimpin masa lalu, yang lebih signifikan justru adalah nilai Pancasila itu sendiri. (walau pada kenyataannya, banyak yang mengkritik bahwa nilai kelima sila tersebut sama sekali tidak tercermin pada masa ini) Di samping itu, perlu digaris bawahi bahwa kita juga belum mengetahui alasan Sultan Hamid II menggunakan simbol tersebut. Toh, dia adalah sosok pengkhianat. Who knows dia memiliki hubungan dengan Freemasonry pada masa itu.

Sekarang, adakah negara lain dengan simbol serupa yang memiliki nilai pagan atau sejenisnya yang lebih signifikan? Bagaimana dengan Amerika Serikat, sebagai negara adidaya yang selalu dijadikan "teladan" dalam berbagai bidang kenegaraan? Mengapa di atas simbol burung The Great Seal terdapat bintang yang susunannya menyerupai bendera Israel ataupun bintang David? Masa sih kebetulan... Sepertinya menarik untuk kita bahas di post selanjutnya :)


Tuesday, 12 March 2013

The Sun Rises

Logo Sejak 1999. Sumber: Wikipedia
Akhirnya, dua hari setelah kecelakaan yang membuat Vespa kesayangan saya rusak, saya baru dapat menggunakan tangan kanan saya lagi meski masih agak sakit. Mungkin setelah ini saya akan menggiatkan diri dalam Bike to Campus, lagi.

Baiklah, langsung ke topik. Ini adalah tulisan lanjutan mengenai matahari. Tapi, seperti pesan pak Ramok, which is dosen saya, saya tidak akan banyak membahasnya dari sudut pandang yang biasa disebut "teori konspirasi" (walau saya kurang menyukai istilah itu). Saya akan lebih banyak membahas dari segi visual dan hubungannya dengan latar belakang pemakaian visualisasi tersebut.


Jadi, kenapa CBS si logo-mata-satu memiliki acara "sun"day morning dengan logo matahari yang dalam beberapa versi, mata sebelahnya seakan bercahaya seperti itu? Saya rasa kita semua setuju bahwa hal demikian pasti ada alasannya. Dalam hal ini, saya akan sedikit melakukan studi tanda yang menurut saya juga berhubungan dengan Hermneutika.

Horus. Sumber: Wikipedia
Bagi yang belum mengetahui, terdapat korelasi antara keduanya. Pertama, Dewa Horus. Mata kanannya merupakan matahari (Ra) dalam agama Mesir Kuno, yang dipuja sejak kurun pra-dinasti hingga masa Yunani dan Romawi. Ia merupakan putra dari dewa Isis & Osiris. Yang mana merupakan representasi dari siang hari melawan Dewa Set, atau dewa kegelapan, yang muncul di malam hari ataupun ketika terjadi badai/ kekacauan. Penyembahnya di jaman dulu percaya bahwa pada siang hari, Horus memenangkan pertarungan melawan Set dan begitupula sebaliknya, Set mengalahkan Horus di malam hari.

Jika yang barusan tentang matahari. Lalu apa hubungannya dengan mata satu? Ya, ada cerita yang terlewat, bahwa mata Horus... pernah buta sebelah dalam perkelahiannya melawan Set. Hmm...

Set. Sumber: Wikipedia
Mungkin beberapa akan langsung mengarah kepada Dajjal / antichrist yang juga buta sebelah, serta betapa lambang mata satu sangat banyak muncul di berbagai media dan perusahaan-perusahaan besar. Tapi kita kesampingkan dulu hal itu.

Simpelnya, mata satu dan dewa matahari berkorelasi dengan agama pagan (penyembahan berhala) di masa lalu. Dan simbol-simbol atau tanda tersebut, disadari atau tidak, tersebar di sekitar kita. Saya tidak akan banyak berspekulasi hanya karena kesamaan visual, namun dalam hal ini saya mengutip analisa seorang doktor Yahudi, Henry Makow tentang perusahaan-perusahaan yang mengasosiasikan matahari sebagai filosofi perusahaannya. Sebenarnya ada banyak, namun disini saya hanya akan mengambil contoh yang lebih familiar di Indonesia, seperti misalnya Shell, yang memang milik keluarga Rotschild, tokoh besar bankir Illuminati.
Shell sejak awal memang mengasosiasikan kerang. Namun, mengapa sejak 1930 mereka terus mempertahankan bentuk yang menyerupai matahari-terbit hingga saat ini? | Sumber: brandirectory.com
Kenyataannya, generasi (desainer) muda di Indonesia saat ini lebih banyak berlindung di balik postmodernisme dalam konsepnya berkarya. Namun pada dasarnya kita harus sadar dan pasti setuju bahwa baik pemilik perusahaan-perusahaan besar sejak masa lalu, dan klien kita saat ini, sangat menyukai latar belakang yang mencerminkan diri mereka, visi mereka, dsb. Bagaimanapun, pengalaman kita di Indonesia sungguh berbeda jika dibandingkan dengan klien-klien raksasa di luar sana yang pastinya idealis dan visioner. Sehingga, simbol adalah hal yang sama sekali tidak boleh diremehkan.

Jika ada yang ingin menelusuri lebih jauh tentang makna matahari, dan merasa penasaran kenapa begitu banyak dewa matahari yang disembah, yang bukan hanya di Jepang, namun juga Afrika, Aborigin, Kanaan, Hindu, Maya, Persia, dan masih banyak lagi. Kamu bisa dapatkan jawabannya di film dokumenter berjudul Zeitgeist. Bahkan, poin tersebut juga dilengkapi dalam tulisan ustadz Felix Siauw di website pribadinya, bahwa tahun baru secara tidak langsung berhubungan dengan penyembahan matahari, yang juga berhubungan dengan hari Valentine. Itu menjawab kritisisme saya dulu tentang perayaan tahun baru yang menurut saya kurang penting. Padahal orang Islam memiliki tahun barunya sendiri. Lalu, adakah yg penasaran dengan hari minggu alias sunday? Mengapa umat kristiani melakukan ibadah pada hari tersebut, padahal kan hari yg disebutkan dalam bible adalah sabat/ sabtu. Yap, Zeitgeist, the Arrivals dan sumber lain mengungkapkan bahwa itu adalah bagian dari manipulasi yg telah dilakukan sejak sebelum masa prajurit templar. (Dan sebenarnya, di film Zeitgeist juga dijelaskan betapa 25 Desember bukanlah apa-apa melainkan kepercayaan paganisme lainnya)


    Simbol mata Horus, yang akan mengarahkan kita pada mata satu, yang banyak diasosiasikan dalam perusahaan-perusahaan, organisasi dan konspirasi yang akan saya bahas di post berikutnya Insha Allah :D. | Sumber: Wikimedia

    *Bonus: Tahukah kamu, Horus berkepala rajawali memiliki simbol lain, berupa burung yang tampilannya seperti di bawah ini. Yang menarik adalah, betapa simbol tersebut menjadi inspirasi (atau bahkan lebih) dari begitu banyak negara di dunia. Sekali lagi, Is it a coincidence? I think there's must be a reason, right? Ini bukan metode pascok (ngepas dan nyocok) loh. Stay tune for the next great post, guys :)
    Lambang Horus
    Lambang Indonesia
    Lambang Amerika Serikat
    *dan sebenarnya masih banyak tapi (selain saya males ng-attach) segitu cukup kok untuk teaser :D


    Saturday, 2 March 2013

    Sedikit Ide Pertama

    Sebelum melanjutkan ke konten, saya hanya sedikit heran, mengapa ada... sedikit orang yang belum apa2 sudah lebih banyak men-judge saya, yang paling parah, melarang saya untuk posting hal-hal yang padahal akan berhubungan dengan DPAZL which is (future) Tugas Akhir saya. Tapi ya, kalau dipikir2 sebenenarnya sih saya tidak heran... Karena, mereka, selain memang sedikit yang mengetahui fakta2 penting di sekitar, juga sedikit yang tahu bahwa saya punya tujuan yang (sebagai desainer) dapat dibilang sangat produktif bahkan visioner. Dan sharing di facebook hanyalah bagian dari cara saya mencapai itu. (Saya rasa bagi yang sudah bersedia membaca blog ini, layak untuk saya beritahu hal ini) Ya, saya bertujuan untuk mengetahui sejauh mana target audiens saya nanti memahami konten DPAZL. Dan sedikit banyak saya bisa mengerti reaksi dan tingkat keterbukaan mereka. Singkatnya, menyamakan persepsi lah.

    Saya berusaha membuat segalanya terstruktur. Sebelumnya, terimakasih kepada Pak Sabar (dosen Riset saya), atas info-nya bahwa berdasarkan riset, karakteristik orang Indonesia yang terlalu gengsi, lebih melihat konten daripada konteks, dan 8 karakter lainnya, membuka mata saya dalam melakukan pendekatan tersebut. Struktur tersebut, jika ada yg mengikuti posting-an saya di facebook, dimulai dari budaya pop, lalu sharing2 mengenai makna dan nilai uang, kemudian konspirasi pada peristiwa nine-eleven, lalu nilai2 yang ada pada media yang memuat peperangan, hingga terjadinya peperangan itu sendiri.

    Hasilnya, dibandingkan melihat kebenaran, lebih banyak yang mencari2 kesalahan. Atau simpelnya, konten lebih dilihat daripada konteks. Cenderung lebih banyak yang tertutup dan mengkritisi dengan cara yang sering saya lakukan dulu,  ketika lebih banyak 'berbicara' daripada 'mendengar', logika umum yang dalam desain diibaratkan sebagai "Ide Pertama", yang mana para pekerja kreatif setuju, bahwa Ide Pertama adalah ide spontan yang cenderung sama dan merupakan sesuatu yang sebaiknya jangan dipercaya, tapi mereka tidak.Ini berhubungan dengan Diskursus, yakni diskusi yang seharusnya berangkat dari filosifi awal dari sebuah pemikiran.

    Yah, setidaknya para kontra-fakta tersebut mau tidak mau dapat melihat fakta di news feed-nya dan ikut berpikir. Karena, para Elit Visioner itu memang menginginkan generasi muda untuk tidak terlalu banyak berpikir. Itulah alasan begitu banyak Entertainment diproduksi sebagai strategi untuk itu.

    Saya terpaksa harus mengenyampingkan fakta bahwa saya memiliki hak untuk beropini bebas di internet, baik disini maupun di facebook. Karena orang2 itu akan "menyerang" saya. Yah, mau bagaimana lagi, hidup adalah pilihan dan ini pilihan saya. Belum "berhadapan" langsung dengan Raja saja, sudah banyak yang menghadang. Sekarang gini aja deh, kalau buku dari para pemikir dianggap sebagai teori konspirasi, dan bukti-bukti nyata dari foto, kesaksian, dan film2 dokumenter dikesampingkan dengan alasan menyebarkan kebencian. Berarti (selain kitab suci) apa yang harus kita percaya? Haduh.

    Ketika tedengar informasi yang terlalu detail, ada istilah"nyebut merk" atau "pencemaran nama baik". Ketika tidak detail, mereka menginginkan data dan memilih untuk tidak percaya. Memang selalu ada cara untuk mendukung subjektifitas. #The Power of Why [18]

    Wednesday, 27 February 2013

    Sunday Morning. Sungguh "Pemanasan" Global

    Logo Sejak 1999. Sumber: Wikipedia
    Seperti judulnya, post ini hanyalah pemanasan. Yah karena hubungannya dengan panas, saya rasa kita setuju bahwa matahari adalah topik yang lumayan cocok ya. Saya tahu bahwa baik CBS maupun acara Sunday Morning tidak familiar dengan orang Indonesia. Tapi yah, namanya juga pemanasan.

    Semua berawal ketika di hari Minggu, saya (tidak sengaja) menonton acara Asia's Next Top Model hanya karena disana ada Nadya Hutagalung, dan kebetulan, itu episode terakhir. Mereka diminta melakukan pemotretan untuk majalah fashion terkemuka Bazaar, dengan baju-baju desainer yang mahal, dan shooting untuk menjual produk-produk tertentu. Dan memang, rupanya itulah gunanya model. Menjual dan terus menjual sesuatu, menciptakan sebuah transaksi keuangan. Bahkan, sepanjang acara, iklan-iklan yang disajikan melulu tentang parfum-parfum playboy dan barang-barang High-Involvement lainnya. Hingga sampai pengumuman pemenang, hadiahnya pun tidak tanggung-tanggung, selain uang sebesar US$100 ribu (Rp 970 juta) dan mobil Subaru XV, Jessica dari Thailand berkesempatan menjadi model Canon IXUS 2013, model sampul majalah Harper’s Bazaar, dan kontrak sebagai model dengan Storm Model Management di Inggris dan Eropa. Apalagi kalau bukan sesuatu. Hingga acara berakhir, dan saya tercengang ketika melihat acara tersebut merupakan acara yang fully-supported by CBS Network.
    Logo CBS
    Seketika, otak saya seakan berputar hendak mencari kesimpulan, yang akan lebih mudah diketahui bagi mereka yang sempat mengetahui seri video The Arrivals produksi Noreagaaa dan sejenisnya. Yakni, bahwa acara tersebut hanyalah another-tool bagi "mereka", ya, mereka, objek yang dibahas di blog ini, yang lebih dikenal dengan Illuminati.

    Tool dalam membuat orang-orang, dalam hal ini wanita, untuk mengejar kesempurnaan dunia yang diukur dari kesempurnaan fisik dan pada akhirnya materialistik. Dapat dipastikan, acara Next Top Model versi Asia pertama ini, akan menjadi ajang 'rerebutan' para perempuan Asia yang menganggap kecantikan fisik itu penting, sekalipun dengan alasan passionnya di bidang modelling. Apalagi dengan hadiah yang begitu menggiurkan. Bagaimana tidak, Mereka (Illuminati) kan dapat 'mencetak' uang sesuka mereka tanpa dituduh memalsukan uang seperti penjahat-penjahat kelas teri. Dan pada akhirnya, mereka sendiri (para wanita cantik) pun menjadi alat untuk membuat orang membeli produk-produk materialistik lainnya. Itulah alasan mengapa mereka begitu dipromosikan.

    Loh kok, ulasan mengenai acara Sunday Morning nya mana? Ng, nanti ya... akan saya bahas di post berikutnya. Stay awake, guys. God's watching ^^

    Tuesday, 19 February 2013

    Sejumput Overview: Tentang Dpazl

    Dpazl adalah future-visual-encyclopedia yang akan diterbitkan di toko buku-toko buku dan dibuat oleh saya sendiri Insha Allah :D. Jujur saja, ini adalah bagian dari Riset yang akan menuju ke Tugas Akhir saya setengah tahun ke depan. Untuk sementara, saya perlihatkan Overview which is merupakan abstrak dari Tugas Akhir saya. Thanks for watch... i mean, reading


    Screenshot langkah awal saya (selain riset) menuju terpecahnya puzzle :) 


    Disadari atau tidak, globalisasi – bersamaan dengan begitu mudah dan cepatnya arus informasi melalui berbagai sarana teknologi – mempengaruhi masyarakat untuk berperilaku konsumtif. Setiap saat, masyarakat bisa mengakses informasi apapun melalui hampir semua media yang bahkan ada dalam genggaman tangannya. Umumnya, globalisasi lebih dikenal membawa dampak positif. Namun pengetahuan yang setengah-setengah menutupi urgensi dari dampak negatif yang lebih signifikan. Seperti misalnya disorientasi, atau krisis sosial-budaya dalam masyarakat, serta yang paling penting, semakin merebaknya gaya hidup konsumerisme bahkan hedonisme yang dewasa ini, tidak hanya terjadi di perkotaan, tapi dapat dikatakan merambah hampir seluruh masyarakat di Indonesia, sebagai negara dengan jumlah umat Muslim terbanyak di dunia.

    Berkembangnya jenis dan pilihan produk berbanding lurus dengan gaya hidup konsumtif yang menurut KBBI, merupakan paham yg menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya. Padahal, selain makin banyaknya produk-produk sekunder bahkan tersier diluar kebutuhan yang dibeli masyarakat, mereka juga tidak sadar bahwa penggunaan uang kertas yang tidak bijak akan membawa lebih banyak dampak buruk. Masyarakat mayor tidak tahu dan cenderung tidak peduli terhadap sistem uang/ perbankan dewasa ini yang tidak lepas dari Riba. Bagaimana sistem tersebut diciptakan, mengapa emas sebagai alat tukar digantikan dengan uang kertas, mengapa terus-menerus terjadi inflasi, dan yang paling penting, untuk siapa uang mereka dibelanjakan, adalah hal-hal yang luput dari perhatian 88% populasi Indonesia yang beragama Islam.

    Disamping Freemasonry; Globalisme, Komunisme, Pluralisme, Sosialisme, Liberalisme, Feminisme, Zionisme, dan Neo Konservatisme, adalah kemasan dan “make up” para elit Illuminati dalam mewujudkan satu tujuan, “Novus Ordo Seclorum”, bahasa latin yang berarti “Orde Baru (yang) Sekuler”, yang lebih dikenal sebagai “New World Order”, tatanan dunia baru yang memisahkan agama dari kehidupan, atau singkatnya, dunia tanpa Tuhan. Dalam beberapa agama, hal ini merupakan tanda-tanda berakhirnya dunia, dan mereka berusaha mewujudkan itu dengan berbagai cara yang tidak banyak disadari oleh dunia, mulai dari hiburan seperti pop-culture, musik, film, pornografi dan industri sejenis, lalu pemikiran, gaya hidup dan gerakan-gerakan/ organisasi menyimpang, konspirasi, hingga yang paling dekat dengan masyarakat saat ini, yakni produk-produk konsumtif, mulai dari produk-produk high-involvement, Kuadran I seperti barang-barang teknologi dan gaya hidup, hingga produk low-involvement, Kuadran 4 yang dikonsumsi setiap hari, seperti alat-alat mandi, makanan, dan yang teparah, rokok. Tidak banyak yang sadar bahwa darisitulah dana perang yang begitu besar terhadap saudara-saudara kita di Timur Tengah dikumpulkan kelompok pemuja setan tersebut.

    Sebenarnya, pengetahuan dan teori mengenai Illuminati dan agenda-agenda mereka sudah diterbitkan dan dapat dibeli di toko-toko buku. Namun lagi-lagi, pengetahuan yang setengah-setengah dan topik-topik yang lebih banyak beredar selama ini lewat internet dan mulut ke mulut, membuat masyarakat Indonesia khususnya, tidak terlalu menganggap serius dan tidak jarang yang mempercayainya sebagai Hoax. Dpazl adalah sebuah Ensiklopedia Visual yang pada titik awal akan berbentuk buku berisi ilustrasi dan infografis yang seperti namanya, berkonsep dari potongan-potongan puzzle yang disatukan. Strategi Illuminati dalam “bersenjatakan” kotak yang ada di setiap rumah, yakni televisi, merupakan alasan kenapa buku dipilih sebagai media perancangan ini, karena, buku dapat berdiri sendiri dan dapat diperlihatkan ke lebih banyak segmen dan lebih banyak orang di Indonesia dibandingkan dengan media digital. Meskipun visualisasi dan gaya komunikasi akan disesuaikan dengan segmen utama yakni secara umum generasi muda di atas 20 tahun, namun dengan media buku Ensiklopedia Visual, target utama dapat membagi informasi ke orang lain dengan buku tersebut sebagai representasi fisik yang maksimal. Ensiklopedia ini akan disajikan dengan mengkorelasikan kehidupan sehari-hari dan dampaknya terhadap dunia pada umumnya, dan umat Muslim khususnya.

    Diharapkan, Ensiklopedia Visual Dpazl ini dapat memberikan pengetahuan, yang minimalnya adalah awareness, dan lebih jauh lagi, masyarakat Indonesia dapat memilah-milah kepada siapa uangnya dibelanjakan dan bahkan dapat menjadi masyarakat produktif, dalam rangka mewujudkan pribadi-pribadi yang mandiri dan independen.